Rabu, 26 Oktober 2016

Contoh Kasus Manajemen Pemasaran JetBlue Happy Jetting

1.    Give examples of needs, wants, and demands that JetBlue costumers demonstrate, differiating these three concepts. What are the implications of each for JetBlue practice?
Need dari costumer adalah dia dapat sampai ke tujuannya. Want dari costumer adalah dia mendapatkan perjalanan yang murah, nyaman, berkesan, dan menyenangkan. Demand dari costumer adalah perjalanan yang memuaskan dengan biaya murah dan menambah pengalaman mereka. Implikasi dari need adalah costumer bisa saja memilih semua metode transportasi, tetapi bila membutuhkan kecepatan maka pesawat yang diutamakan. Implikasi dari want adalah costumer akan menjadi loyal apabila JetBlue bisa menyediakan apa yang mereka inginkan, dan telah dibuktikan oleh JetBlue. Implikasi dari demand adalah costumer menjadikan JetBlue pilihan pertama mereka.
2.         Describe in detail all the facets of JetBlue’s product. What is being exchanged in JetBlue transaction?
JetBlue menyediakan tempat yang lebih longgar pada setiap kursi penumpang tanpa terkecuali. JetBlue menyediakan snackbar di mana penumpang kapanpun bisa memakannya dengan gratis. Setiap kursi dilengkapi dengan TV LCD dan radio Sirius XM. Gratis mengirimkan dan mendapatkan email di udara menjadi salah satu “facets”. Yang dipertukarkan di JetBlue adalah kepuasan penumpang, penumpang yang telah membayar tiket mendapatkan kepuasan selam perjalanan dan sampai di tujuan.
3.             Which of the five marketing management concepts best applies to JetBlue?
JetBlue adalah perusahaan jasa, sehingga konsep mengenai produk tidak relevan. Konsep bahwa costumer adalah prioritas dan fokus menjadi yang paling tepat. JetBlue harus mengerti dengan benar cara mereka memenuhi kebutuhan dan keinginan costumer. JetBlue telah membuktikan bahwa dengan menaruh perhatian kepada kebutuhan dan keinginan costumer, JetBlue telah meraih tempat di hati costumernya.
4.             What value does JetBlue create for its costumers?
Value yang ditawarkan adalah Happy Jetting. Jadi costumer akan merasakan pengalaman menyenangkan yang membuat penumpang merasa betah dalam perjalanan. JetBlue terus memperhatikan keluhan, masukan, dan hubungan yang baik dengan costumer menggunakan twitter.
5.             Is JetBlue likely to being successful in building costumer relationships? Why or why not?

Apabila JetBlue tetap memperbaiki dan menambah fitur yang mendukung value yang mereka tawarkan, maka bisa saja JetBlue akan mengalahkan maskapai kelas atas dan maskapai lainnya. Karena costumer yang telah loyal akan menceritakan pengalamannya ke orang lain, kemudian orang tersebut mencoba dan terpuaskan oleh JetBlue. Bisa saja permintaan perjalanan akan melonjak terus walaupun ada delay di bandara. 

Contoh Kasus Manajemen Pemasaran Trap Ease America

1.      Martha and the Trap-Ease investors believe they face a once-in-a-lifetime opportunity. What information do they need to evaluate this opportunity?
Sesuai dengan marketing manajemen, pembeli harus menjadi prioritas. Mulai dari spesifikasi, kegunaan, fungsi, dan cara pemakaian produk trap ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari konsumen mengenai pemakaian perangkap tikus. Setelah produk, mereka harus mengerti berapa besar market segmentnya. Market segment ini mulai dengan mencari tahu siapa saja yang akan membeli produk tersebut. Setelah itu tentukan pembagian market tersebut menjadi beberapa market segment, untuk itu diperlukan data mengenai market. Kemudian lihatlah harga dan tempat kompetitor memasarkan produk mereka agar bisa bersaing.
How do you think the group would write its mission statement? How would you write it?
Mission statement harus mencerminkan value dan keunggulan produk mereka, yang nantinya bisa menjadi Unique Sellipng Proposition. Trap Ease adalah produk menjebak tikus tanpa ada hal-hal merepotkan lagi.
2.             Has Martha identified the best target market for Trap Ease?
Martha telah melakukan target marketing berdasarkan soal, yaitu untuk para wanita yang benci terhadap darah dan bangkai tikus yang disebabkan perangkap tradisional. Martha juga menyebutkan bahwa anak-anak dan hewan peliharaan akan aman jika trap ease digunakan, dibandingkan dengan racun tikus yang mungkin dimakan oleh anak-anak dan hewan peliharaan.
What other market segment might the firm target?
Restauran, depot, warung, dan tempat lainnya yang mengolah makanan. Tikus akan lebih tertarik tinggal di tempat dia mendapatkan makanannya. Lumbung pertanian dan usaha lainnya yang menyimpan dan memproduksi makanan.
3.             How has the company positioned the Trap-Ease for the chosen target market?
Trap Ease menonjolkan value kebersihan dan bebas penyakit yang akan disebabkan oleh perangkap tikus tradisional.
Could it position the product in other ways?
Trap Ease yang terbuat dari plastik, sebaiknya bisa digunakan kembali. Dalam bacaan, pengguna dapat memakai ulang setelah membuang tikus di dalamnya. Atau Trap Ease bisa saja menyediakan costumer service untuk melakukan petunjuk penggunaan pada costumer.
4.             Describe the current marketing mix for Trap-Ease.
Produk: Perangkap tikus
Merek: Trap Ease
Harga: $2,99
Tempat pembelian: Hypermarket, Safeway, Kmart, Hechingers dan CB Drugs
Media promosi: Pameran, Majalah perlengkapan rumah tangga
Kemasan: 2 produk pada 1 kemasan
Do you see any problem with this mix?
Media promosinya masih sangat kurang. Majalah perlengkapan rumah tangga biasanya akan dibaca oleh kaum pria, sehingga target market wanita kurang diberitahu mengenai produk ini. Tempat pembelian terlalu berkelas, menyebabkan hanya kalangan atas yang dapat membeli produk tersebut. Harga juga menjadi persoalan penting, karena kemasan yang 2 in 1, sebaiknya kemasan dibuat per 1 produk saja, sehingga harga jauh lebih murah.
5.             Who is Trap-Ease America’s Competitor?
Kompetitor utama Trap Ease adalah semua pembuat perangkap tikus dan racun tikus. Kemudian ada juga dari pestisida, hewan peliharaan pembunuh tikus, yang umum digunakan.
6.             How would you change Trap-Ease’s marketing strategy?
Kemasan harus diubah menjadi 1 produk dalam 1 kemasan, untuk memudahkan mendapatkan konsumen kalangan menengah ke bawah. Tempat pembelian harus diperbanyak kepada supermarket dan retailer kecil. Media promosi lebih difokuskan kepada media yang berkaitan dengan wanita atau yang sekiranya wanita menaruh perhatiaanya.
What kinds of control procedur would you establish for this strategy?

Trap Ease harusnya memiliki visi misi dan tujuan jangka panjang. Dari proyeksi demand, dapat diukur per bulannya apakah demand sudah sesuai dengan yang diharapkan. Selalu melakukan pencarian data dan informasi mengenai market, sehingga bisa dimungkinkan untuk menambah marjet segment. Costumer service yang bagus akan mampu menjaring komentar dan kesan dari pengguna.

Review Jurnal Geothermic Volume 64 hal 392-400 "Life cycle assessment of Organic Rankine Cycles for geothermal powergeneration considering low-GWP working fluids"

Jurnal ini membahas mengenai pengujian LCA yang dilakukan pada Geothermal model baru yaitu Binary Cycle. Pada pembangkit listrik Binary Cycle, dilakukan dengan menggunakan cairan ORC R245fa dan R134a, padahal kedua cairan tersebut memiliki GWP (Global Warming Potential) yang sangat tinggi. Maka pada jurnal ini akan dibahas mengenai cairan alternatif yaitu Isobutane, Isopentane, R1233zd, Propane, dan R1234yf, yang memiliki GWP yang rendah. Pada jurnal ini juga akan dibandingkan alternatif tersebut dari segi GWP, efisiensi pembangkit, Acidification, Eutrophication. 



a.             Goal and Scope Definition 
Dalam jurnal berjudul Life Cycle Assesment of Organic Rankine Cycles for Geothermal Power Generation Considering low-GWP Working Fluids, Goalnya adalah untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) dari sudut kategori dampaknya terhadap pemanasan global, kebutuhan dari sumber energi yang tidak dapat diperbaharui, pengasaman, dan euthropikasi (berkurangnya kadar oksigen di air).
Scopenya berkaitan dengan kriteria-kriteria daerah pengeboran. Dalam jurnal ini, dibahas semua material dan proses yang berkaitan dengan pengeboran, konstruksi, pengoperasian, dan pembongkaran.
Dikarenakan begitu banyak hal yang mempengaruhi pengukuran teknis dari pembangkit listrik dengan jaringan listrik, maka tidak dimasukkan ke dalam bahasan jurnal ini. Functional unitnya adalah 1kWhe (emisi tiap kWh). Ekonomi boundary nya adalah kebutuhan listrik diperuntukkan oleh pengguna listrik terbanyak.
Terdapat 7 skenario yang akan diuji dalam jurnal LCA ini. Skenario ini akan disimulasikan dengan menggunakan progam komputer CYCLE TEMPO.
1.      Skenario pertama, menggunakan Isobutane pada Geothermal one-stage subcritical dan Geothermal two-stage subscritical sebagi working fluidnya.
2.      Skenario kedua, menggunakan Isopentane pada Geothermal one-stage subcritical dan Geothermal two-stage subscritical sebagai working fluidnya.
3.      Skenario ketiga, menggunakan R245fa pada Geothermal one-stage subcritical dan Geothermal two-stage subscritical sebagai working fluidnya.
4.      Skenario keempat, menggunakan R1233zd pada Geothermal one-stage subcritical dan Geothermal two-stage subscritical sebagai working fluidnya.
5.      Skenario kelima, menggunakan Propane pada Geothermal one-stage supercritical sebagai working fluidnya.
6.      Skenario keenam, menggunakan R134a pada Geothermal one-stage supercritical sebagai working fluidnya.
7.      Skenario ketujuh, menggunakan R1234yf pada Geothermal one-stage supercritical sebagai working fluidnya.
Operasional boundary-nya ada pada kriteria yang telah ditentukan penulis jurnal. Penulis menggunakan data-data yang telah dipublikasikan, namun untuk tingkat kebocoran gas ORC ini, penulis tidak mendapatkan data, maka penulis menggunakan data untuk tingkat kebocoran gas refrigeration sistem. Recovery factor yang digunakan penulis adalah 79%. Geological boundary-nya adalah LCA ini di South German Molasse Basin dan Upper Rhine Rift Valley.
b.             Life Cycle Inventory 
Dalam langkah ini, semua material dan energi yang menjadi input dan output di kumpulkan dan di hitung. Mulai dari dalam pengeboran, material yang dibutuhkan untuk membuat komponen listrik, material untuk komponen pompa dan pipa-pipanya, yang juga akan berkaitan mengenai struktur bangunan pembangkit sesuai regulasi hukum berlaku.
c.              Life Cycle Impact Analysis 
Penulis mengambil data-data dampak lingkungan dari material dan proses yang dipilih. Data tersebut diambil dari ECOINVENT dan PROBAS, keduanya adalah badan lingkungan. Terdapat perbedaan data antara kedua sumber tersebut, maka kedua data tersebut akan dibandingkan di akhir. Simulasi dijalankan dan kemudian dilakukan second law analysis. Dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
 dan 

d.             Interpretation 
Kemudian akan dilakukan diskusi mengenai hasil simulasi. Juga akan dilakukan sensitivity analysis untuk mengetahu pengaruh boundary condition. Berikut merupakan hasil simulasinya:


Dari hasil simulasi tersebut, dilakukan terlebih dahulu uji validitasnya. Didapatkan hasil deviasi sebesar 6,3%. Angka tersebut layak untuk dilakukan LCA. Data hasil simulasi ditambahkan dengan data dari inventory analysis tadi. Kemudian dari keduanya dijumlahkan berapa besar dampak lingkungannya. Dalam hal ini, yang diperhitungkan adalah dari segi Global warming, kebutuhan terhadap energi terbatas, eutrofikasi, dan pengasaman. Didapatkan hasil sebagai berikut:



e.              Conclusion
Pada South German Molasse Basin, peningkatan efisiensi terlihat pada Geothermal two-stage subcritical dan supercritical, yaitu sebesar 36,7% dibandingkan dengan one stage subcritical menggunakan R245fa. Global warming impact berkurang dari 97,2 gCO2/kWhe menjadi 18,9 gCO2/kWhe dan 15,6 gCO2/kWhe. Pada Upper Rhine Rift Valley, peningkatan efisiensi tidak terlalu terlihat, dikarenakan keterbatasan dari suhu reinjection dari cairan geothermal. Dibandingkan dengan one-stage subcritical R245fa, second law efisiensi mengalami kenaikan hingga 6,8%.
Penggunaan isopentane dalam two-stage subcritical dan penggunaan R134a dalam supercrital dianggap lebih sesuai. Dalam pembangkit listrik tenaga geothermal two-stages dan supercritical, R123zd dan R1234yf akan meningkatkan efisiensi hingga 2,3%, namun dampak global warmingnya berkurang sangat drastis dari 78 ke 13 gCO2/kWhe. Tetapi cairan low-GWP, memiliki kebutuhan yang sedikit lebih besar dalam segi kebutuhan terhadap energi terbatas. Meskipun begitu, cairan low-GWP ini layak untuk diperhitungkan sebagai alternatif pengganti R245fa.


Selasa, 04 Oktober 2016

Tugas LCA

Case 1:
You want to decide whether to use a plastic or paper bag at the supermarket. The plastic bag weighs 40 g with a capacity of 9 L, and you estimate you will use it twice on average (reuse one additional time after the first use). The paper bag weighs 30 g with a capacity of 6 L and cannot be reused.
1. Determine the FU, assuming the bags carry their maximum load.

2. Determine the reference flows and key parameters linking the reference flows to the FU for the two scenarios, assuming manufacturing and disposal are negligible.

Jawaban:
Product
Functional Unit (Service Offered)
Reference flow (What is Bought)
Key Parameters (Linking Reference Flows to FU)
Scenario 1:
Plastic Bag 40g capacity 9L can reuse 1 time
Dapat menampung 18L barang selama 2 kali
2 Plastic Bags, 80g
(digunakan ulang sekali)
Kapasitas Kantong
Penggunaan Ulang
Scenario 2:
Paper Bag 30g capacity 6L, cant be reused
6 Paper Bags, 180g
(3 untuk pemakaian pertama, 3 untuk pemakaian kedua)
Berat

Case 2:
Use LCA to compare the use of paper towels in a public restroom with that of a hot-air dryer.
1. Describe the function and any secondary functions of the system.
2. Choose an FU that represents the function of the system.
3. For each case, list the reference flows and key parameters corresponding to the selected FU.

4. System boundary

Jawaban:

Product
Functional Unit (Service Offered)
Secondary Functional
Reference flow (What is Bought)
Key Parameters (Linking Reference Flows to FU)

Scenario 1:
Paper towel
Sepasang tangan yang kering
Panas
12 kg berat alat untuk 20 tahun
1800 W, 30 detik
Daya listrik dan lama pengeringan

Berat
Scenario 2:
Hot-Air Hand Dryer
Bersih (dari bekteri dll)
3,358 kg plastic dan paper towel
1.5 paper towels
Jumlah paper towel yang digunakan
System Boundaries:
·         Kedua tangan harus dikeringkan langsung setelah dicuci.
·         Kedua tangan dicuci selama 15 detik menggunakan air yang mengalir dengan cukup dari keran.

Case 3:

1. Ambil produk yang sehari-hari digunakan.
2. Buat studi LCA dengan menentukan
3. Goal and Scope definition
4. FU, Reference Flow, Key Parameters and System Boundary.

Produk yang dibandingkan adalah Air Cooler dan Air Conditioner.
Goal:
LCA ini dibuat untuk memilih produk yang terbaik dari produk untuk menyejukkan ruangan. Kedua produk ini telah banyak dipasarkan dan digunakan sehari-hari terutama sejak adanya peningkatan suhu global akibat pemanasan global. Kedua produk ini juga menggunakan sumber daya listrik yang kian hari kian meningkat permintaannya, sementara kapasitas pembangkit terbatas.
LCA ini bisa digunakan kepada orang yang ingin menyejukkan ruangan dengan tetap mempertimbangkan biaya listrik yang dipakai. 

System Boundaries:
·         1. Digunakan untuk menyejukkan ruangan ukuran 8x6 m2.
·         2. Lama dibatasi selama 8 jam atau 1 shift kerja.

·          3.  AC yang dibandingkan dayanya 1 PK.


Product
Functional Unit (Service Offered)
Reference flow (What is Bought)
Key Parameters (Linking Reference Flows to FU)
Scenario 1:
Air Cooler
1 ruangan yang sejuk selama 24 jam
1 Air Cooler dengan 6 kali pengisian air es sebanyak 24L
Daya yang digunakan selama 24 jam adalah 1,32kWh  (55*24/1000)
Berat alat 20 kg dan berat air es 30 kg
Daya yang digunakan
Jumlah air es yang digunakan untuk menyejukkan
Scenario 2:
Air Conditioner
1 Air Conditioner dengan 1 kali pengisian freon 800g
Daya yang digunakan selama 24 jam adalah 9,504kWh (396*24/1000)
Berat indoor 6,5 kg danberat outdoor 19,5 kg
Jumlah freon yang digunakan untuk menyejukkan
Berat
Sumber spesifikasi dari produk Air Cooler:
Sumber spesifikasi dari produk Air Conditioner:

Terima Kasih

Minggu, 02 Oktober 2016

Cara Membangun Suatu Brand yang Berkesan Bagus di Mata Pelanggan

Dalam artikel sebelumnya, kita telah mempelajari apa itu Marketing 1.0 dan Marketing 2.0. Kedua jenis marketing tersebut merupakan dasar fokus strategi marketing perusahaan. Ada beberapa istilah yang dipakai dalam artikel ini, seperti Market Share atau dalam Bahasa Indonesianya adalah pangsa pasar, adalah penjualan yang telah dicapai oleh perusahaan. 

Market adalah psar, di mana dua pihak bertemu dan bertransaksi, namun dalam kemajuan jaman, jumlah kedua pihak tersebut tidak terbatas, bisa saja pembelinya 1 juta orang dan penjualnya 100. Banyak penjual ataupun produsen mulai bersaing satu sama lain di produk-produk yang sejenis, dan kian lama kian bertambah besar persaingannya. Jika salah satu perusahaan salah mengambil strategi marketing mereka, maka besar kemungkinan bagi perusahaan tersebut keluar dari persaingan itu. Maka, untuk memilih strategi yang mana kita harus mengetahui fokus dari strategi marketing 1.0 dan 2.0.

Marketing 1.0 telah muncul sejak dahulu dan masih ada perusahaan menggunakannya. Marketing 1.0 sangat efektif jika perusahaan menguasai semua pelangganya sebagai market share-nya, semakin besar market share-nya, semakin besar profit yang didapatkan oleh strategi ini. Jadi, dalam Marketing 1.0 produsen hanya berfokus dengan memproduksi barang yang menghasilkan banyak keuntungan, juga harus serendah mungkin biayanya, untuk mendapatkan profit yang lebih lagi. Sehingga strategi ini hanya memikirkan mengenai produk mereka menurut kebaikan dan kebutuhan produsen kemudian menjual sebanyak-banyaknya ke konsumen. 

Sedangkan dalam Marketing 2.0, produsen melalui divisi marketing perusahaan mencoba sebanyak-banyaknya menjaring semua kebutuhan dan keinginan konsumen. Sehingga startegi ini berfokuskan mengenai apa yang bisa ditwarkan oleh perusahaan untuk memenuhi paling tidak beberapa segmen pasar mereka. Dari situ, perusahaan akan berusaha membuat konsumen yang membeli produk mereka menjadi konsumen yang loyal terhadap brand mereka. Konsumen loyal akan membelisecara berkala dan condong terhadap produk lain dengan brand yang sama. Maka dari itu, biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menjaring konsumen baru jauh lebih besar dan tidak menguntungkan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk membuat konsumen loyal dan tetap loyal. 

Marketing 2.0 berfokus kepada beberapa kebutuhan dan keinginan konsumen di suatu psar. Kenapa tidak semua konsumen di pasar? Bukankah semua konsumen merupakan potensi pasar dan bisa menjadi market share? Memang kebanyakan pandangan mengemukakan bahwa, perusahaan bisa mendapatkan profit lebih jika menguasai semua pasar, namun pada kenyataannya, biaya yang dikeluarkan untuk menangkap semua konsumen di suatu pasar sangatlah besar dan membutuhkan resource yang sangat besar pula. Sehingga perlu dibuat pembagian-pembagian konsumen di pasar agar strategi 2.0 perusahaan fokus dan efektif, pembagian tersebut disebut segmen pasar. Beberapa perusahaan berupaya menambah segmen pasar yang menjadi fokus mereka dengan cara menambah brand baru.

Kemudian untuk membuat brand yang kuat, maka perusahaan harus melakukan postioning dalam pasar. Posistioning didapatkan dengan cara membuat produk harus memiliki keunggulan daripada produk kompetitor yang tetap menjadi kebutuhan dan keinginan utama konsuemen tersebut. Dengan keunggulan ini, konsumen yang membeli dan menggunakan produk mereka dapat merasa terpuaskan dan mulai beranggapan bahwa produk dengan brand yang sama akan menwarkan kepuasan yang sama. Dalam hal harga, banyak anggapan kuno bahwa dengan harga yang semakin murah, akan mendapatkan konsumen yang lebih besar, padahal tidak seperti itu. Konusmen yang sudah terpuaskan kebutuhan dan keinginannya, tidak akan keberatan jika harga produk itu naik, karena mereka loyal. 

Pada era modern ini, semua orang dari berbagi belahan dunia dengan mudah terhubung oleh internet. Semua arus informasi mengalir begitu deras dan banyak, termasuk informasi mengenai pengalaman konsumen menggunakan produk. Banyak konsumen menceritakan pengalaman mereka di media sosial dan blog-blog. Jika perusahaan sudah memuaskan konsumen, konsumen mulai menceritakan pengalaman yang bagus-bagus kepada publik,sehingga bisa menjadi promosi yang gratis dan efektif. Namun, jika perusahaan gagal memuaskan konsumen, maka konsumen meceritakan kepada publik yang buruk-butk dan cenderung melebih-lebihkan, dan berita ini menjadi ancaman utama dari upaya markting di era modern ini.

Terima kasih,
Tulisan ini terinspirasi ketika melihat kedua video singkat yang berjudul: Marketing 101- Building Strong Brands Part I - University of Pennsylvania dan Marketing 101- Building Strong Brands Part II - University of Pennsylvania. Oleh: Barbara Kahn.



Kamis, 22 September 2016

Sudut Pandang Baru dari Takhayul Lingkungan

Mungkin beberapa dari kita masih ingat mengenai peraturan pemerintah yang dibuat di tahun 2016. Peraturan ini membuat semua pembeli di supermarket sampai hypermarket harus membayar Rp.200,00 per bungkus kantong plastik. Peraturan ini dibuat agar masyarakat mengurangi secara massal penggunaan kantong plastik yang dipandang merupakan dampak terbesar. Padahal pandangan dan pemikiran seperti ini tidak tepat.

Sebenarnya bila kita lihat di luar negeri, beberapa market menawarkan beberapa opsi kepada konumen apakah barang belanjaan mereka dibawa dengan kantong plastik atau kantung kertas. Bila anda peduli dengan lingkungan, maka anda tentu akan memilih menggunakan kantong kertas yang dipandang mudah terurai dan tidak berdampak. 

Sebenarnya upaya yang tepat demi kelangsungan lingkungan adalah menggunakannya kembali. Percuma anda setiap melakukan pembelian di market-market selalu membeli kantong kertas atau kantong plastik. Kertas sekalipun akan membutuhkan oksigen untuk bisa terurai secara alami. Apabila di tempat pembuangan sampah, sudah terlalu banyak sampah yang "biodegradeable" di sana, maka akan berlomba-lomba mengambil oksigen di sana untuk bisa menguraikan dirinya. Apabila oksigen di sana sudah terpakai semua, maka sampah tersebut akan menghasilkan gas Methana yang berbau busuk dan memiliki potensi greenhouse 4x lipat dari karbon dioksida. Memang ada beberapa tempat pembuangan yang sudah melakukan penangkapan gas Methana tersebut untuk dijadikan bahan bakar alternatif. Tetapi sudahkah semua tempat pembungan besar dilengkapi fasilitas tersebut, atau yakinkah semua gas itu tertangkap oleh fasilitas tersebut?

Ada juga dari beberapa perusahaan yang berfokus untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Tetapi apakah perusahaan tersebut memikirkan dampak penggunaan produk tersebut dengan dampaknya terhadap lingkungan? Kita ambil contoh di perusahaan Teko Pemanas Air Elektrik di Inggris, yang hampir 97% dimiliki oleh keluarga-keluarga di Inggris karena budaya mereka untuk setiap sore meminum teh hangat. Perusahaan tersebut berfokus untuk menghasilkan produk dengan material yang ramah lingkungan, padahal 65% pengguna teko tersebut, selalu mengisi penuh teko tersebut hanya untuk meminum secangkir teh hangat, sebagian besar air yang sudah di hangatkan dibiarkan mendingin. Perusahaan tersebut harusnya memikirkan cara agar pengguna hanya memanaskan air sesuai keinginan mereka.

Jadi, jika Anda peduli dengan lingkungan, dan memang harusnya demikian, rubahlah pola hidup Anda. Jika Anda adalah konsumen, mulailah untuk menggunakan ulang produk konsumsi di tangan Anda sampai rusak. Jika Anda adalah produsen, mulaialah mengembangkan produk yang penggunaan dan materialnya ramah lingkungan, apalagi jika produk Anda adalah produk konsumsi massal yang penggunaannya memiliki dampak lebih besar ketimbang materialnya.

Terima kasih
Tulisan ini terinspirasi ketika menonton video di You Tube yang berjudul: Leyla Acaroglu: Paper beats plastic? How to rethink environmental folklore. Oleh: Leyla Acaroglu

Rabu, 14 September 2016

Marketing 1.0, 2.0, 3.0 Bukanlah Sekedar Beda Versi

Dalam artikel ini saya akan mencoba menjelaskan secara singkat mengenai Marketing 1.0, 2.0, dan 3.0. Marketing ini dibedakan karena perbedaan mengenai perbedaan fokus setiap versi. 

Marketing 1.0 adalah marketing yang berfokuskan kepada produk sehingga apa yang menjadi keunggulan produk, itulah yang dipromosikan. Tujuannya adalah penjualan dan penjualan. Marketing ini berorientasikan kepada konsumen yang sangat banyak, dan produsen hanya berfokus mengembangkan produk itu saja. Contohnya adalah perusahaan susu tradisional, yang hanya mementingkan produknya yaitu susu.

Marketing 2.0 adalah marketing yang berfokuskan kepada produk dan kebutuhan konsumen.Dalam marketing ini juga hadri pihak ketiga yaitu agen atau distributor. Sehingga konsumen dari produsen juga berfokus kepada konsumennya. Dibutuhkan untuk menjaga agar konsumen tidak membeli ke pesaing, dan diperlukan pemenuhan kebutuhan dari konsumennya. Sehingga pada marketing ini dibutuhkan perkerja tambahan untuk mencari tahu apa saja kebutuhan konsumen terhadap produk mereka.

Marketing 3.0 adalah marketing yang berfokuskan kepada produknya, kebutuhan konsumen, dan pandangan sosial atau terkenalnya produsen atau merk tersebut, beserta tren-tren yang muncul di masyarakat saat itu. Produsen dan distributor diharapkan untuk mengikuti tuntutan tren-tren lingkungan dan sosial. Sehingga produsen dan distributor bisa melakukan promosi dan iklan di media-media sosial di mana tren tersebut berkembang.

Terima Kasih
Tulisan ini terinspirasi ketika menonton video di You Tube yang berjudul: Marketing 3.0 - Philip Kotler. Oleh: Philip Kotler