Jurnal ini membahas mengenai pengujian LCA yang dilakukan pada Geothermal model baru yaitu Binary Cycle. Pada pembangkit listrik Binary Cycle, dilakukan dengan menggunakan cairan ORC R245fa dan R134a, padahal kedua cairan tersebut memiliki GWP (Global Warming Potential) yang sangat tinggi. Maka pada jurnal ini akan dibahas mengenai cairan alternatif yaitu Isobutane, Isopentane, R1233zd, Propane, dan R1234yf, yang memiliki GWP yang rendah. Pada jurnal ini juga akan dibandingkan alternatif tersebut dari segi GWP, efisiensi pembangkit, Acidification, Eutrophication.
a.
Goal and Scope Definition
Dalam jurnal berjudul Life Cycle Assesment of
Organic Rankine Cycles for Geothermal Power Generation Considering low-GWP
Working Fluids, Goalnya adalah untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari
pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) dari sudut kategori dampaknya
terhadap pemanasan global, kebutuhan dari sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui, pengasaman, dan euthropikasi (berkurangnya kadar oksigen di air).
Scopenya berkaitan dengan kriteria-kriteria
daerah pengeboran. Dalam jurnal ini, dibahas semua material dan proses yang
berkaitan dengan pengeboran, konstruksi, pengoperasian, dan pembongkaran.
Dikarenakan begitu banyak hal yang mempengaruhi
pengukuran teknis dari pembangkit listrik dengan jaringan listrik, maka tidak
dimasukkan ke dalam bahasan jurnal ini. Functional unitnya adalah 1kWhe (emisi
tiap kWh). Ekonomi boundary nya adalah kebutuhan listrik diperuntukkan oleh
pengguna listrik terbanyak.
Terdapat 7 skenario yang akan diuji dalam jurnal
LCA ini. Skenario ini akan disimulasikan dengan menggunakan progam komputer
CYCLE TEMPO.
1.
Skenario pertama, menggunakan Isobutane pada Geothermal one-stage
subcritical dan Geothermal two-stage subscritical sebagi working fluidnya.
2.
Skenario kedua, menggunakan Isopentane pada Geothermal one-stage
subcritical dan Geothermal two-stage subscritical sebagai working fluidnya.
3.
Skenario ketiga, menggunakan R245fa pada Geothermal one-stage
subcritical dan Geothermal two-stage subscritical sebagai working fluidnya.
4.
Skenario keempat, menggunakan R1233zd pada Geothermal one-stage
subcritical dan Geothermal two-stage subscritical sebagai working fluidnya.
5.
Skenario kelima, menggunakan Propane pada Geothermal one-stage
supercritical sebagai working fluidnya.
6.
Skenario keenam, menggunakan R134a pada Geothermal one-stage
supercritical sebagai working fluidnya.
7.
Skenario ketujuh, menggunakan R1234yf pada Geothermal one-stage
supercritical sebagai working fluidnya.
Operasional boundary-nya ada pada kriteria yang
telah ditentukan penulis jurnal. Penulis menggunakan data-data yang telah
dipublikasikan, namun untuk tingkat kebocoran gas ORC ini, penulis tidak
mendapatkan data, maka penulis menggunakan data untuk tingkat kebocoran gas refrigeration
sistem. Recovery factor yang digunakan penulis adalah 79%. Geological
boundary-nya adalah LCA ini di South German Molasse Basin dan Upper Rhine Rift
Valley.
b.
Life Cycle Inventory
Dalam langkah ini, semua material dan energi
yang menjadi input dan output di kumpulkan dan di hitung. Mulai dari dalam
pengeboran, material yang dibutuhkan untuk membuat komponen listrik, material
untuk komponen pompa dan pipa-pipanya, yang juga akan berkaitan mengenai
struktur bangunan pembangkit sesuai regulasi hukum berlaku.
c.
Life Cycle Impact Analysis
Penulis mengambil
data-data dampak lingkungan dari material dan proses yang dipilih. Data
tersebut diambil dari ECOINVENT dan PROBAS, keduanya adalah badan lingkungan.
Terdapat perbedaan data antara kedua sumber tersebut, maka kedua data tersebut
akan dibandingkan di akhir. Simulasi dijalankan dan kemudian dilakukan second
law analysis. Dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
d.
Interpretation
Kemudian akan
dilakukan diskusi mengenai hasil simulasi. Juga akan dilakukan sensitivity
analysis untuk mengetahu pengaruh boundary condition. Berikut merupakan hasil
simulasinya:
Dari hasil simulasi tersebut, dilakukan terlebih dahulu uji
validitasnya. Didapatkan hasil deviasi sebesar 6,3%. Angka tersebut layak untuk
dilakukan LCA. Data hasil simulasi ditambahkan dengan data dari inventory
analysis tadi. Kemudian dari keduanya dijumlahkan berapa besar dampak
lingkungannya. Dalam hal ini, yang diperhitungkan adalah dari segi Global
warming, kebutuhan terhadap energi terbatas, eutrofikasi, dan pengasaman.
Didapatkan hasil sebagai berikut:
e.
Conclusion
Pada South German Molasse Basin, peningkatan
efisiensi terlihat pada Geothermal two-stage subcritical dan supercritical,
yaitu sebesar 36,7% dibandingkan dengan one stage subcritical menggunakan
R245fa. Global warming impact berkurang dari 97,2 gCO2/kWhe
menjadi 18,9 gCO2/kWhe dan 15,6 gCO2/kWhe.
Pada Upper Rhine Rift Valley, peningkatan efisiensi tidak terlalu terlihat,
dikarenakan keterbatasan dari suhu reinjection dari cairan geothermal.
Dibandingkan dengan one-stage subcritical R245fa, second law efisiensi
mengalami kenaikan hingga 6,8%.
Penggunaan isopentane dalam two-stage
subcritical dan penggunaan R134a dalam supercrital dianggap lebih sesuai. Dalam
pembangkit listrik tenaga geothermal two-stages dan supercritical, R123zd dan
R1234yf akan meningkatkan efisiensi hingga 2,3%, namun dampak global warmingnya
berkurang sangat drastis dari 78 ke 13 gCO2/kWhe. Tetapi
cairan low-GWP, memiliki kebutuhan yang sedikit lebih besar dalam segi
kebutuhan terhadap energi terbatas. Meskipun begitu, cairan low-GWP ini layak
untuk diperhitungkan sebagai alternatif pengganti R245fa.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar