Minggu, 02 Oktober 2016

Cara Membangun Suatu Brand yang Berkesan Bagus di Mata Pelanggan

Dalam artikel sebelumnya, kita telah mempelajari apa itu Marketing 1.0 dan Marketing 2.0. Kedua jenis marketing tersebut merupakan dasar fokus strategi marketing perusahaan. Ada beberapa istilah yang dipakai dalam artikel ini, seperti Market Share atau dalam Bahasa Indonesianya adalah pangsa pasar, adalah penjualan yang telah dicapai oleh perusahaan. 

Market adalah psar, di mana dua pihak bertemu dan bertransaksi, namun dalam kemajuan jaman, jumlah kedua pihak tersebut tidak terbatas, bisa saja pembelinya 1 juta orang dan penjualnya 100. Banyak penjual ataupun produsen mulai bersaing satu sama lain di produk-produk yang sejenis, dan kian lama kian bertambah besar persaingannya. Jika salah satu perusahaan salah mengambil strategi marketing mereka, maka besar kemungkinan bagi perusahaan tersebut keluar dari persaingan itu. Maka, untuk memilih strategi yang mana kita harus mengetahui fokus dari strategi marketing 1.0 dan 2.0.

Marketing 1.0 telah muncul sejak dahulu dan masih ada perusahaan menggunakannya. Marketing 1.0 sangat efektif jika perusahaan menguasai semua pelangganya sebagai market share-nya, semakin besar market share-nya, semakin besar profit yang didapatkan oleh strategi ini. Jadi, dalam Marketing 1.0 produsen hanya berfokus dengan memproduksi barang yang menghasilkan banyak keuntungan, juga harus serendah mungkin biayanya, untuk mendapatkan profit yang lebih lagi. Sehingga strategi ini hanya memikirkan mengenai produk mereka menurut kebaikan dan kebutuhan produsen kemudian menjual sebanyak-banyaknya ke konsumen. 

Sedangkan dalam Marketing 2.0, produsen melalui divisi marketing perusahaan mencoba sebanyak-banyaknya menjaring semua kebutuhan dan keinginan konsumen. Sehingga startegi ini berfokuskan mengenai apa yang bisa ditwarkan oleh perusahaan untuk memenuhi paling tidak beberapa segmen pasar mereka. Dari situ, perusahaan akan berusaha membuat konsumen yang membeli produk mereka menjadi konsumen yang loyal terhadap brand mereka. Konsumen loyal akan membelisecara berkala dan condong terhadap produk lain dengan brand yang sama. Maka dari itu, biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menjaring konsumen baru jauh lebih besar dan tidak menguntungkan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk membuat konsumen loyal dan tetap loyal. 

Marketing 2.0 berfokus kepada beberapa kebutuhan dan keinginan konsumen di suatu psar. Kenapa tidak semua konsumen di pasar? Bukankah semua konsumen merupakan potensi pasar dan bisa menjadi market share? Memang kebanyakan pandangan mengemukakan bahwa, perusahaan bisa mendapatkan profit lebih jika menguasai semua pasar, namun pada kenyataannya, biaya yang dikeluarkan untuk menangkap semua konsumen di suatu pasar sangatlah besar dan membutuhkan resource yang sangat besar pula. Sehingga perlu dibuat pembagian-pembagian konsumen di pasar agar strategi 2.0 perusahaan fokus dan efektif, pembagian tersebut disebut segmen pasar. Beberapa perusahaan berupaya menambah segmen pasar yang menjadi fokus mereka dengan cara menambah brand baru.

Kemudian untuk membuat brand yang kuat, maka perusahaan harus melakukan postioning dalam pasar. Posistioning didapatkan dengan cara membuat produk harus memiliki keunggulan daripada produk kompetitor yang tetap menjadi kebutuhan dan keinginan utama konsuemen tersebut. Dengan keunggulan ini, konsumen yang membeli dan menggunakan produk mereka dapat merasa terpuaskan dan mulai beranggapan bahwa produk dengan brand yang sama akan menwarkan kepuasan yang sama. Dalam hal harga, banyak anggapan kuno bahwa dengan harga yang semakin murah, akan mendapatkan konsumen yang lebih besar, padahal tidak seperti itu. Konusmen yang sudah terpuaskan kebutuhan dan keinginannya, tidak akan keberatan jika harga produk itu naik, karena mereka loyal. 

Pada era modern ini, semua orang dari berbagi belahan dunia dengan mudah terhubung oleh internet. Semua arus informasi mengalir begitu deras dan banyak, termasuk informasi mengenai pengalaman konsumen menggunakan produk. Banyak konsumen menceritakan pengalaman mereka di media sosial dan blog-blog. Jika perusahaan sudah memuaskan konsumen, konsumen mulai menceritakan pengalaman yang bagus-bagus kepada publik,sehingga bisa menjadi promosi yang gratis dan efektif. Namun, jika perusahaan gagal memuaskan konsumen, maka konsumen meceritakan kepada publik yang buruk-butk dan cenderung melebih-lebihkan, dan berita ini menjadi ancaman utama dari upaya markting di era modern ini.

Terima kasih,
Tulisan ini terinspirasi ketika melihat kedua video singkat yang berjudul: Marketing 101- Building Strong Brands Part I - University of Pennsylvania dan Marketing 101- Building Strong Brands Part II - University of Pennsylvania. Oleh: Barbara Kahn.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar